Foto Cerita : Geliat Imajinasi Digital di Kota Kreatif
Geliat Imajinasi Digital di Kota Kreatif
Foto dan Teks: Ari Bowo Sucipto
Pagi itu cuaca masih terasa dingin sehabis hujan semalam. Cahaya matahari menyapa lembut ruang animasi dan gim di Malang Creative Center (MCC). Gedung yang berdiri di sisi timur Kota Malang, Jawa Timur, itu menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda dengan mimpi besar. Dari balik layar komputer yang menyala, mereka menyalakan imajinasi, menciptakan dunia digital yang lahir dari semangat dan ketekunan.
Di salah satu sudut MCC, beberapa anak muda tampak serius menatap layar komputer, larut dalam dunia yang mereka ciptakan. Di ruang gim dan animasi itulah Ariverse Games menumpang bekerja, menjadikan MCC sebagai rumah pertama bagi ide dan cita-cita mereka. Muhammad Ali Zulfikar, CEO Ariverse berusia 22 tahun, berdiskusi bersama tiga rekannya, berfokus mengembangkan gim baru berjudul Night Watch at The Gallery, sebuah gim bergenre horor misteri yang membawa pemain menjelajahi galeri seni di tengah malam dengan atmosfer tegang dan visual bergaya sinematik. Gim Personal Computer (PC) mereka sebelumnya yang berjudul Liter Factory, telah dipasarkan di Steam, platform penjualan gim digital, dan menjangkau pasar global. Dengan kiprahnya, Zulfikar kini menjadi mentor resmi pembuatan gim horor se-Asia Tenggara dari Unity Official. Sementara itu, Ariverse terus merambah proyek Augmented Reality (AR), aplikasi pembelajaran mobile, serta menjaring talenta muda berbakat dari berbagai daerah. “Kami percaya bahwa potensi pasar global tidak terbatas pada teknologi, tapi pada sejauh mana kami berani mewujudkan imajinasi kami menjadi sesuatu yang baru. Ini adalah tantangan terbesar kami setiap hari,” ujar Zulfikar.
Ketekunan serupa terlihat dari studio digital lain yang tumbuh dari ruang sederhana. Kantor Prime Time Digital berukuran tiga kali empat meter, yang hanya cukup untuk Endrita Agung Wicaksono dan satu rekannya bekerja, menjadikan keterbatasan sebagai ruang ide dan diskusi. Kolaborasi bersama tim sering terjadi di ruangan lain, yaitu dapur. Didirikan pada 2018, studio ini menggabungkan kekuatan narasi visual dan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menciptakan konten periklanan, pemasaran, film pendek, hingga karya digital. Salah satu karya terobosannya adalah film pendek Malang Bumi Hangus, yang diklaim sepenuhnya digarap menggunakan AI, telah ditonton ribuan orang, diputar di berbagai festival, dan mendapat tanggapan positif. Bagi Endrita, ukuran ruang bukanlah batas kreativitas, melainkan pemicu untuk terus berinovasi di tengah keterbatasan.
Dari lingkungan yang sama, ekosistem kreatif Malang juga melahirkan studio berskala besar seperti Mocca Studio, yang kini memberdayakan lebih dari 170 orang. Perusahaan ini menjadi vendor terpercaya bagi klien dari Amerika Serikat, Spanyol, dan Italia. Tak berhenti di situ, Mocca mengembangkan Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) mereka sendiri, seperti karakter Baby Zu, tokoh edukatif yang dirancang membantu balita dengan keterlambatan bicara (speech delay). Sosok itu menegaskan bahwa industri kreatif digital tak sekadar berorientasi ekonomi, tapi juga berdampak sosial. “Kami ingin membuktikan bahwa animasi bukan sekadar hiburan; melalui Baby Zu, kami menempatkan dampak sosial di garis depan. Inilah jiwa dari kreasi digital yang sesungguhnya,” kata Irwanto, CEO Mocca Studio.
Melihat geliat para pelaku industri ini, pemerintah daerah dan pusat terus memperkuat perannya sebagai fasilitator. Di Malang, MCC menjadi titik temu dan tuan rumah berbagai ajang bergengsi, seperti Indonesia Creative Cities Network (ICCN) – Indonesia Creative Cities Festival (ICCF). Salah satu ruang unggulannya adalah City Planning Gallery yang menjadi bukti nyata kolaborasi antara imajinasi dan tata kota. Di dalamnya, pengunjung tidak hanya disajikan peta digital interaktif yang menampilkan rencana pembangunan, tetapi juga dapat merasakan animasi lorong waktu berbasis media arts yang menjelajahi dan merekonstruksi sejarah kota. Bahkan, tersedia pengalaman Virtual Reality (VR) untuk menenggelamkan pengunjung dalam simulasi pembangunan masa depan. Dukungan Kemenparekraf di tingkat nasional turut memperluas kolaborasi antarsektor dalam ekosistem ekonomi kreatif.
Puncaknya, pada 30 Oktober 2025, pengakuan resmi datang. Penghargaan dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) menandai tonggak penting bagi Malang sebagai kota kreatif dunia di bidang Media Arts, menempatkannya sejajar dengan kota-kota seperti Gwangju (Korea Selatan) dan Toronto (Kanada) dalam jejaring global ini.
Di tangan para kreator ini, ide tumbuh menjadi karya, dan mimpi sederhana menjelma cahaya yang menghubungkan Malang dengan dunia. Dari ruang-ruang kecil dan layar yang menyala, para seniman digital Malang tak hanya membangun industri. Mereka menyalakan masa depan.*
.
Sumber : Galeri Foto ANTARA News Jawa Timur